News

Apakah Pesan Bom Sarinah?

 Beritapekerja.com| Bom meledak di sekitar pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta, Kamis (14/1/2016). Aksi teroris ini menelan 7 nyawa dan 19 orang luka berat. Pada setiap aksi teror, pelaku selalu mengirimkan pesan tersembunyi. Apakah pesan tersebut? Siapakah pelakunya?

Sampai saat ini, pihak kepolisian belum memastikan pelaku dan pesan dari pelaku teroris peledakan bom Sarinah. Maka, beberapa spekulasi pun berkembang. Spekulasi yang berdasarkan pada gejala atau indikasi dalam beberapa bulan atau hari terakhir. Tidak hanya itu, spekulasi juga bersandar pada kesejarahan aksi teror di Indonesia.

Spekulasi pertama terkait dengan gerakan Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS). Pengamat terorisme dan mantan anggota Jemaah Islamiyah, Nasir Abbas melihat adanya kesamaan pola teror antara peristiwa di sekitar Sarinah dengan peristiwa di Paris, Perancis, beberapa waktu lalu. Pola tersebut berupa penyerangan bom dan senjata pada beberapa lokasi yang berdekatan.

Spekulasi dari Nasir cukup beralasan. Bulan November 2015 lalu, ISIS memang sudah mengirimkan ancaman. Melalui video yang beredar di youtube, ISIS berencana menyerang Indonesia. Tidak hanya Indonesia, serangan juga bakal dilakukan ke negara Perancis, Amerika Serikat, Italia, dan Lebanon.

Ancaman di bulan November 2015 juga dilakukan melalui audio di jejaring sosial facebook. Pelaku ancaman memakai nama Muhammad Bahrunnaim Anggih Tamtomo. Dia diduga berasal dari kelompok jaringan Muhajidin Indonesia Timur (MIT), salah satu jaringan dari ISIS. Dalam audio berdurasi 9.34 menit ini, pemimpin MIT yang diduga adalah Santoso, sedang mengincar Polda Metro Jaya. Tak hanya mengancam Polda Metro Jaya, mereka juga meminta pejabat pemerintah untuk bertobat. Dengan mengatasnamakan Tuhan dan jihad, mereka akan menghancurkan pemerintahan dengan berondongan senapan dan pembantaian.

Ancaman ISIS akan menyerang Indonesia tidak hanya sekali itu saja. Sebelumnya, video sudah beberapa kali diunggah. Misalnya pada bulan April 2015 lalu. Ketika itu, ISIS mengancam akan melakukan serangan ke Pulau Nusakambangan.

Di pulau pengasingan tersebut, dua orang narapidana kasus tindak pidana terorisme memang sedang menjalani hukuman badan. Mereka adalah Abu Bakar Baasyir dan Oman Abdurrahman. Secara terus terang, tokoh dalam video berencana membebaskan keduanya. “Kepada syaikhuna Abu Bakar Baasyir dan syaikhuna Oman Abdurrahman dan mujahidin lain yang ada di penjara toghut, bersabarlah doakan, kami akan membebaskan kalian,” ujar tokoh dalam video itu, seraya menambahkan bahwa dia mendukung kelompok Santoso di Poso, Sulawesi Tengah, yang merupakan teroris buronan nomor satu di Indonesia.

Apakah benar pelaku adalah ISIS melalui kelompok Santoso? Tidak ada yang berani memastikan. Tetapi, jika merujuk pada situasi beberapa hari terakhir, ada pula indikasi lain. Indikasi dari pengungkapan secara besar-besaran dari kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Keberadaan Gafatar ini cukup misterius, antara yang ditampakkan dengan yang dilakukan bisa sangat berbeda. Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gafatar Jawa Timur dr. Budi Laksmono, dua hari lalu menyatakan bahwa kelompoknya telah bubar sejak Agustus 2015.

Namun anehnya, walau sudah bubar, faktanya ada seorang istri yang memilih nekat meninggalkan suaminya untuk bergabung dengan Gafatar. Seorang istri tersebut adalah dr Rica Tri Handayani. Bersama anaknya yang masih balita, dokter asal Lampung ini menemui suami di Yogyakarta lantas pergi tanpa pamit ke Kalimantan Barat (Kalbar). Dia diduga untuk bergabung dengan Gafatar yang kini berganti nama menjadi Negara Karunia Tuhan Semesta Alam (NKSA). Sepucuk surat ditinggalkan untuk suaminya, dia pergi hendak bergabung dengan orang-orang untuk membangun peradaban yang lebih baik dan diridloi Allah SWT. “Memenuhi kewajiban hamba Allah manusia dengan mengabdi kepada Allah,” begitu dr Rica berpesan.

Apakah Gafatar merupakan kelompok yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia? Budi Laksmono dengan tegas membantah. Ia mengatakan, organisasi ini bukanlah organisasi Islam, melainkan organisasi kemasyarakatan yang bergerak di sisi sosial dan secara umum semua orang dengan latar belakang agama berbeda dapat bergabung di dalamnya. Justru, menurut Budi, Gafatar ingin menggabungkan ajaran di Alquran, Taurat Injil, Zabur, serta beberapa kitab lainnya.

Budi Laksmono boleh saja berapologi tetapi orang lain juga bisa menafsirkan berbeda. Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan, mengatakan Gafatar meniru gerakan NII. Dia juga meyakini bahwa program Gafatar mirip dengan program NII.

Penilaian Ken Setiawan cukup logis. Apalagi, Gafatar memang didirikan oleh Ahmad Musadeq. Tokoh ini semula pemimpin dari kelompok Al-Qiyadah al-Islamiyah. Akibat dinilai menistakan agama, Ahmad Musadeq sempat dihukum penjara 2,5 tahun. Setelah bebas, dia mendirikan Komunitas Milah Abraham. Lagi-lagi Pemerintah melarang organisasi ini. Tapi sepertinya Ahmad Musadeq tak patah arang. Dia lantas mendirikan Gafatar pada tahun 2011.

Jika memang pelaku peledakan bom Sarinah berasal dari kelompok ISIS atau sejenisnya, pesan yang hendak disampaikan cukup jelas: Mereka hendak mendirikan negara Islam di Indonesia.

Merunut pada sejarahnya, keinginan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia memang selalu ada. Bahkan sebelum Indonesia merdeka. Gerakan paling besar dilakukan oleh Darul Islam – Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Pada tanggal 7 Agustus 1942, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo menyatakan telah berdiri Darul Islam yang berusaha memperjuangkan syariat Islam sebagai dasar negara. Hukum yang berlaku adalah hukum Islam. Hukum yang bersumber pada Alquran dan Hadits.

Kartosoewirjo pun menolak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Dia makar. Memberontak. Dan, dia melawan dengan senjata. Perang pun pecah selama belasan tahun. Selain pemberontakan yang dipimpin oleh Kartosoewirjo, Darul Islam meluas ke beberapa pulau lain. Tercatat, ada pemberontakan yang dipimpin Daud Beureueh di Aceh (1953-1962), pemberontakan Amir Fatah di Jawa Tengah (1950-1959), pemberontakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan (1950-1965). Bisa dibilang, keinginan menjadikan Indonesia sebagai negara Islam memang sulit untuk dipadamkan.

Tetapi benarkah bom Sarinah terkait dengan keinginan membentuk negara Islam? Tidak ada yang tahu secara pasti. Kesemuanya masih sebatas dugaan. Tetapi ada suara lain yang mengaitkan bom Sarinah dengan Freeport. Suara-suara itu merebak luas di media sosial twitter dan facebook.

Ada apa dengan Freeport? Usut punya usut, hari ini, Kamis (14 Januari 2016) adalah hari terakhir bagi Freeport untuk menawarkan pelepasan saham kepada Pemerintah Indonesia. Hal itu sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, yang menyatakan Freeport wajib mengajukan sisa penawaran sahamnya yakni sebesar 10,64 persen senilai USD 1,7 miliar.

Beberapa netizen menduga, bom Sarinah adalah bentuk pengalihan isu dari batas waktu divestasi PT Freeport Indonesia. Netizen lain justru menduga sebaliknya, pelaku teroris mencari momen bertepatan dengan divestasi Freeport.

Lalu, siapakah pelaku sebenarnya dan apakah pesan sebenarnya dari bom Sarinah? Sama seperti yang berlangsung di tempat lain, aksi teroris kerap kali berakhir pada kegelapan informasi. Orang hanya bisa menduga-duga. Sebab, pelaku teroris selalu bergerak di bawah tanah. Dia membuka informasi sekaligus menutupnya rapat-rapat. [but]

Sumber : Beritajatim.com

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button