
Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku”. Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.
(Matius 9:9)
Oleh: Pdt. Edwin Sianipar.
Pemilihan dan panggilan Yesus terhadap Matius, seorang pemungut cukai, merupakan sebuah peristiwa yang mengherankan orang Parisi, Ahlih Taurat dan khalayak ramai. Mungkin sekali kita juga akan merasa heran, mengapa Yesus memilih seorang Pemungut Cukai menjadi muridNya ? Jika pemungut cukai disejajarkan dengan Koruptor seperti yang akhir-akhir ini begitu ramai di beritakan masmedia kita sehubungan dengan proses pengadilan yang sedang berlangsung di ruang pengadilan, rasa heran mungkin sekali terungkap melalui pertanyaan: mengapa Yesus memilih seorang Koruptor menjadi muridNya ?
Di mata orang Yahudi, Pemungut Cukai tergolong orang yang sangat dibenci masyarakat, karena kegiatan mereka yang mirip dengan kebiasaan lintah, mengisap darah sesama bangsanya, sebagai penghianat, pelaku persekongkolan dengan penjajah bangsa Roma. Lalu, melihat kenyataan bahwa Yesus memakai mereka sebagai muridNya, pertanyaan berikut: apakah tindakan ini dapat dikatakan sebagai tindakan yang bijaksana ?
Yesus ternyata mengasihi manusia berdosa, mengasihi Koruptor, mengasihi Matius, meskipun Matius pengisap darah, penghianat, yang tergolong sampah masyarakat Yahudi. Panggilan terhadap Matius merupakan kesempatan dalam membuka lembaran hidup yang baru. Yesus mengatakan kepadanya : Ikutlah Aku !
Sebuah panggilan yang menuntut kesediaan secara menyeluruh untuk menaati kehendakNya. Panggilan yang menuntut kesetiaan ini berlaku sejak Matius merespon dan mengikut Yesus. Keputusan mengikut Yesus merupakan janji untuk bersedia melepas kebiasaan lama dan menyatakan kesetiaannya sampai akhir hidup.
Panggilan ini sesungguhnya sama dengan panggilan seseorang pengemban tugas yang diamanatkan rakyat kepada seorang pemimpin baik ditingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten, Kota bahkan sampai pada taraf Pedesaan atau Kelurahan. Menerima tugas dan melakukannya sesuai ketentuan yang telah digariskan. Tidak diperkenankan melakukan penyimpangan apa lagi penyelewengan tugas.
Ikutlah Aku ! Sebuah pangggilan yang mengajak Matius untuk mau berjalan kearah kemana Yesus bergerak dan melangkah. Bukan bergerak dan melangkah kearah kehendak atau kesenangan pribadinya. Inilah yang harus di ikuti Matius dan ini pula yang menjadi harapan rakyat Yahudi, sama seperti harapan rakyat Indonesia terhadap para Pemimpinnya di setiap aras kepemimpinan.
Dalam memulai lembaran hidup baru, Matius, sebagai Pemungut Cukai, menyatakan pertobatannya. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa sebagai penipu masyarakat, ia juga telah tertipu. Dikatakan tertipu karena keberhasilan si penipu dengan bujuk rayuannya yang aduhai, sehingga ia mengaambil keputusan melakukan tindakan Korupsi.
Ikutlah Aku ! Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Keputusan yang diambil Matius untuk mengikut Yesus adalah sebuah kemenangan. Dikatakan kemenangan karena Mataius mau meninggalkan dan menolak keputusan yang selama ini merupakan keputusan yang salah bahkan menyesatkan. Inipula yang menimbulkan perasaan lega baginya, membuat tidurnya menjadi nyenyak, membuat ia terbebas dari kejaran dan incaran para penegak hukum khususnya KPK ala Yahudi.
Keputusan untuk mengikut Yesus, merupakan bukti bahwa Matius si Pemungut Cukai di pakai Yesus menjadi muridNya. Sebagai murid, ia mempunyai hak untuk duduk bahkan makan beersama dengan Gurunya. Suatu kesempatan yang luar biasa, sebab selama ini ia hanya dapat bergaul akrab dan bercengkrama dengan orang-orang yang mempunyai ambisi dan kehendak yang sama dengannya.
Pergaulan akrab antara Yesus dan Matius setelah ia menjadi pengikut Yesus, melalui duduk dan makan bersama, jelas akan menimbulkan persoalan baru. Ketika itu Yesus akan ditetapkan sebagai pribadi yang masuk golongan penjahat dan orang berdosa. Tetapi satu hal yang harus dicatat, sekalipiun Yesus makan bersama orang jahat bukan berarti Ia menjadi orang jahat, melainkan bertujuan hendak menyelamatkan orang-orang sehingga terbebas dari kejahatan yang selama ini dilakukan.
Tindakan Yesus makan bersama dengan pemungut cukai jelasnya mendapat kecaman dari pihak Parisi. Sekalipun Matius telah berhak untuk duduk dan makan bersama dengan Gurunya, menghilangkan borok lama ternyata bukanlah hal yang mudah. Tindakan sang Guru menemani murid yang baru saja membuka lembaran hidup baru ternyata berbias. Di dalam Injil Matius 11 : 19 dikatakan: “Lihatlah Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa”.
Yesus bergaul dengan pelahap, pemabuk, dan orang-orang berdosa, bukan karena Ia menyetujui bahkan melakukan kejahatan itu, melainkan karena Ia mengasihi mereka. Yesus membenci kejahatan dan mengasihi serta berusa membebaskan mereka. Berbeada denga gaya dan cara berfikr orang Parisi. Sebagai tokoh yang dikenal di masyarakat, selalu menganggap diri benar.
Bukankah Yesus pernah mengatakan bahwa Dia datang bukan untuk orang benar, melainkan untuk orang berdosa ? Kaitannya dengan dosa, Augustinus, Tokoh Bapa Gereja pernah berkata, Non Pose Non Picare, yang artinya tidak mungkin tidak berdosa. Ungkapan ini jelas hendak menyatakan bahwa sesungguhnya setiap orang itu tidak terlepas dari perbuatan dosa, termasuk orang Parisi, Ahli Taurat dan Pemimpin Agama.
Semua orang berdosa ! Jika pernyataan ini disepakati maka seharusnya setiap orang membutuhkan Yesus sebagai penebus. Bukankah Yesus pernah mengatakan bahwa:”orang yang sehat tiada memerlukan tabib, tetapi hanya orang yang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang yang benar, melainkan untuk orang-orang berdosa.”
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa Yesus telah menjungkir balikkan kebiasaan orang Parisi itu. Yesus memanggil orang berdosa dan bukan orang-orang benar. Seperti halnya orang Parisi dan Ahli Taurat, mereka memang tergolong orang yang setia, tetapi kesetiaan mereka hanya dinyatakan dalam upacara keagamaan.
Matius dipanggil bukan karena kesempurnaannya, bukan pula karena kebenarannya, kesetiaan atau kebaikannya. Sekali;-kali tidak! Yesus memanggil dia didorong oleh kasihNya. Kasih yang memerdekakan Matius, kasih yang mendorong dirinya untuk bergerak melangkah memberitakan berita keselamatan. Berita keselamatan ini hendaknya juga dapat kita beritakan kepada orang lain. Tetapi yang menjadi pertanyaan: sudahkah anda mengambil keputusan untuk mengikut Yesus ? Sudahkah anda berhenti melakukan praktek-praktek sebagaimana yang dilakukan lintah, menghisap darah sesama ? Semoga !



